Indonesian
adalah negri yang memiliki sejuta keragaman suku dan budaya. Namun sayang
terkadang kita sebagai kaula muda kurang menyadari keragaman tersebut, sehingga
terkadang kita terkesan mengesampingkan budaya dan kekayaan yang kita miliki. Masyarakat
cendrung lebih memilih budaya yang masuk dari negara lain yang dianggap lebih
keren dibandingkan budaya kita sendiri yang diangap kuno. Namun bila seni yang
kita miliki mulai terusik negara lain barulah mata kita terbuka akan adanya
budaya tersebut. Sebutlah salah satu kasus yang terjadi beberapa tahun lalu
ketika reog ponorogo diklaim oleh pihak malaysia. Barulah rakyat indonesia dari
segala lapisan masyarakat menyadari betapa berharganya reog tersebut.
Reog sendiri adalah salah satu kesenian budaya
yang berasal dari Jawa Timur bagian barat-laut dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. Gerbang kota
Ponorogo dihiasi oleh sosok warok dan gemblak, dua sosok yang ikut tampil pada saat reog
dipertunjukkan. Reog adalah salah satu budaya daerah di Indonesia yang masih
sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan yang kuat.
Namun pada sayangnya pada 2007
kesenian Reog Ponorogo. Namun di Negeri Jiran, tarian sejenis Reog Ponorogo
disebut tari Barongan. Website Kementerian
Kebudayaan, Kesenian, dan Warisan Malaysia dengan alamat situs
http://www.heritage.gov.my memasang gambar Reog Ponorogo. Hal ini membuat
reaksi masyarakat Indonesia di berbagai penjuru Indonesia. Tarian
ini juga menggunakan topeng dadak merak, yaitu topeng berkepala harimau yang di
atasnya terdapat bulu-bulu merak. Padahal
Hak cipta kesenian reog telah dicatatkan dengan
nomor 026377 tertanggal 11 Februari 2004. Ditemukan pula informasi, dadak merak
yang terlihat di situs resmi itu adalah buatan perajin Ponorogo.
Menurut sejarah yang ada reog
ponorogo memiliki lima versi
cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang asal usul Reog dan Warok,
namun salah satu cerita yang paling terkenal adalah cerita tentang
pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada
masa Bhre
Kertabhumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15.Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak
istri raja Majapahit yang berasal dari Cina, selain itu juga
murka kepada rajanya dalam pemerintahan yang korup, ia pun melihat bahwa
kekuasaan Kerajaan Majapahit akan berakhir. Ia lalu meninggalkan
sang raja dan mendirikan perguruan di mana ia mengajar seni bela diri kepada
anak-anak muda, ilmu kekebalan diri, dan ilmu kesempurnaan dengan harapan bahwa
anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan kerajaan Majapahit
kembali. Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan
maka pesan politis Ki Ageng Kutu disampaikan melalui pertunjukan seni Reog, yang merupakan "sindiran" kepada Raja Kertabhumi dan kerajaannya. Pagelaran Reog
menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan
kepopuleran Reog.
Dalam
pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai
"Singa barong",
raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabhumi, dan diatasnya ditancapkan
bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat
para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya. Jatilan, yang
diperankan oleh kelompok penari gemblak yang
menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit yang
menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok, yang berada dibalik topeng
badut merah yang menjadi simbol untuk Ki Ageng Kutu, sendirian dan menopang
berat topeng singabarong yang mencapai lebih dari 50 kg hanya dengan
menggunakan giginya. Kepopuleran Reog Ki Ageng Kutu akhirnya menyebabkan Bhre
Kertabhumi mengambil
tindakan dan menyerang perguruannya, pemberontakan oleh warok dengan cepat diatasi, dan perguruan
dilarang untuk melanjutkan pengajaran akan warok. Namun murid-murid
Ki Ageng kutu tetap melanjutkannya secara diam-diam. Walaupun begitu, kesenian
Reognya sendiri masih diperbolehkan untuk dipentaskan karena sudah menjadi
pertunjukan populer di antara masyarakat, namun jalan ceritanya memiliki alur
baru di mana ditambahkan karakter-karakter dari cerita rakyat Ponorogo yaitu Kelono Sewandono,Dewi Songgolangit, dan Sri Genthayu.
Versi resmi alur cerita Reog Ponorogo kini adalah cerita tentang Raja
Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun di tengah
perjalanan ia dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri. Pasukan Raja
Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Kerajaan Ponorogo Raja Kelono dan Wakilnya Bujang Anom,
dikawal oleh warok (pria berpakaian hitam-hitam dalam
tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam mematikan. Seluruh tariannya
merupakan tarian perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Ponorogo, dan mengadu ilmu
hitam antara keduanya, para penari dalam keadaan "kerasukan" saat
mementaskan tariannya.
Hingga kini masyarakat Ponorogo hanya mengikuti apa yang menjadi warisan
leluhur mereka sebagai warisan budaya yang sangat kaya. Dalam pengalamannya
Seni Reog merupakan cipta kreasi manusia yang terbentuk adanya aliran
kepercayaan yang ada secara turun temurun dan terjaga. Upacaranya pun menggunakan
syarat-syarat yang tidak mudah bagi orang awam untuk memenuhinya tanpa adanya
garis keturunan yang jelas. mereka menganut garis keturunan Parental dan hukum
adat yang masih berlaku [1]
.
Padahal apa
susahnya mencantumkan nama asli dan bangsa pemiliknya. Seperti yang mereka
lakukan pada kesenian Kuda Kepang yang kalau di Indonesia lebih dikenal dengan
nama Kuda Lumping. Malaysia mencantumkan nama asal kesenian Kuda Kepang
dari Jawa.
Kenapa tidak dilakukan pada kesenian yang lain seperti Reog Ponorogo.
Hingga pada akhirnya masuk akhir November 2007, Duta Besar
Malaysia untuk Indonesia Datuk Zainal Abidin Muhammad Zain angkat bicara. Ia
menyatakan Pemerintah Malaysia tak pernah mengklaim Reog Ponorogo. Kesenian itu
dibawa rakyat Jawa yang merantau ke Malaysia[2].
Tak
hanya reog ponorogo kebudayaan yang hampir terampas dari tangan kita, batik,
angklung,dan lagu rasa sayange pun mengalami nasip serupa dengan reog ponorogo.
Sudah waktunya kita sadar dan semkin mencintai apa yang telah menjadi warisan
nenek moyang kita sendiri. Ayo kita kembalikan indonesia kita ke indonesia. Marilah
kita mulai mencintai segala yang kita miliki dan tetap menjaga keutuhan
tersebut. Jangan biarkan ada budaya tradisional yang punah sehingga dengan
mudah di klaim oleh bangsa lain. Mari kita tingkatkan lagi rasa nsionalisme
kita kembali dengan budaya yang kita miliki, akar kita tidak dijajah lagi oleh
bangsa lain. Kita harus mampu lebih maju dan di pandang oleh negara lain dengan
segala yang kita miliki sekarang.
*catatan
dan referensi :
1. http://id.wikipedia.org/wiki/Reog_(Ponorogo)
2. http://news.liputan6.com/read/416067/terusik-lagi-klaim-negeri-jiran

Tidak ada komentar:
Posting Komentar